Saturday, October 29, 2011

Komunikasi Efektif

Semasa kuliah, biasanya ada gank-gank-an. Dekat dengan sekian banyak teman adalah nonsense. Pasti kita hanya dekat dengan teman-teman yang cocok saja. Dulu saya juga punya semacam gank yang terdiri dari lima orang. Dalam gank tersebut, ada seorang teman perempuan saya yang membuat saya merasa janggal. Entah kenapa kalau berada di dekat dia saya merasa.....nyaman.
Tetapi semuanya berubah menjadi tidak nyaman ketika saya mulai menggantungkan diri kepadanya. Di mana ada dia, di situ ada saya. Kalau tidak ada dia, saya merasa aneh. Benar saja, suatu kali dia tidak masuk kuliah karena sakit, dan saya merasa something's missing.
Tahun kedua kuliah, saya putuskan untuk menghentikan semua ini. Saya butuh kejelasan. Saya menghafalkan 3 kata yang harus saya ucapkan. Aku *tuuutt* kamu. Bahkan 3 kata itu saya tulis berkali-kali di sebuah white board. Semalam suntuk saya tidak tidur untuk mengontrol emosi saya agar tidak gugup.
Paginya, ternyata kuliah hanya berlangsung selama 1 jam. Sisanya, kami diberi tugas. Melihat saya sedang tidak melakukan apa-apa, dia, yang duduk di samping saya, bertanya, "Udah selese?" 
"Udah dong."
"Semalem kamu belajar ya?"
"Iya.." Padahal apa yang semalam saya pelajari bukan materi ini.
Waktu menunjukkan 20 menit sebelum kelas usai. Satu per satu mahasiswa keluar, hingga tinggal kami berlima. Saya berkata kepada tiga teman saya, "Eh, itu tadi tugas kalian kayaknya ada masalah." 
"Ah, masak?"
"Iya, coba cek deh." Ketiga teman saya langsung keluar, dan tinggallah kami berdua, saya dan dia, di dalam kelas. Saya mengumpulkan keberanian untuk memulai pembicaraan.
"Aku mau ngomong.."
"Apa?" jawabnya santai, seolah-olah apa yang akan saya katakan bukanlah hal penting, padahal bagi saya ini adalah perjuangan.
"Nggg..."
"...."
"Errgh.."
"Kamu kebelet boker?"
"Enggak."
"Terus?"
"Err..." Saya sedang dalam masa eksplosi. Saya hanya ingin mengatakan betapa sakitnya saya jika saya tidak mengungkapkan ini. "Pokoknya aku harus ngomong ini," lanjut saya.
"Iya, apa?"
"EERRRGHH! Boleh pinjem buku nggak?"
Akhirnya saya merasa kecewa karena keberanian yang saya kumpulkan semalam sia-sia. Apa yang saya katakan tidak sesuai dengan apa yang ada di pikiran saya. Hal tersebut menunjukkan bahwa terjadi masalah dalam proses encoding saya.

Diceritakan dengan intonasi tenang dan menghanyutkan oleh dosen Academic Writing dari Fakultas Ilmu Budaya UGM

4 comments:

  1. Jadi ini sebenernya beneran terjadi atau cuma cerita si Dosen?

    ReplyDelete
  2. Hahahaha. Entahlah..
    Sebenernya kalo kemaren sempet ngerekam suara dosenku, aku lebih milih upload rekaman suara dia. Karena the way he told this story yg menarik~

    ReplyDelete
  3. bener. gak mungkin emang kita bisa temenan dengan akrab sama 100-an lebih mahasiswa. pasti hanya yah minimal 2-3 oranglah yang akrab. :)

    ReplyDelete