Tuesday, January 24, 2012

Toko Kelontong

Dulu aku sama Rara, temen sekosku, pernah belanja di sebuah toko kelontong yang ada di deket kos. Entah karena waktu itu kami buru-buru atau gimana, si pemilik toko kelontong bilang, "Satu-satu, Mbak. Tangan saya cuma dua," dengan nada yang nggak pas diucapin oleh seorang penjual kepada pembeli. Sampe si kos, aku sama Rara cuma menggerutu, "Nggak bakal belanja ke situ lagi!"

Suatu kali, aku pernah ke kos nggak bawa dompet (ketinggalan) dan bingung mau makan apa. Di kantong cuma ada duit Rp5.000,00. Akhirnya dengan duit segitu aku pergi ke toko kelontong di mana aku sama Rara berjanji nggak akan ke situ lagi. Kali ini aku lebih hati-hati.
"Indomie goreng ada?"
"Ada..."
"Dua ya. Berapa?"
"Rp3.000,00."
Dan semuanya baik-baik saja.

Aku memutuskan untuk beli ke toko itu karena waktu itu gerimis dan itu toko kelontong paling deket. Lagian kalo di deket situ jual barang yang aku butuhin, ngapain jauh-jauh?

***

Sebenernya aku sedang mencoba menggambarkan perasaanku sekarang. Dengan cara yang nggak straight to the point, tapi aku sendiri ngerti. Mungkin kayak cerita tentang sebuah toko kelontong di deket kos. Bedanya, di sini aku berperan sebagai pemilik warung. 

Pada akhirnya, nggak ada perumpamaan yang bisa akurat menggambarkan kehidupan nyata. Ya, karena kehidupan nyata nggak pernah se-simple perumpamaan.

No comments:

Post a Comment