Wednesday, May 16, 2012

Sedikit Fiktif

Dia adalah seorang pria yang karismatik. Saya menyebutnya pria karena memang usianya saya perkirakan lebih dari 30 tahun. Saya tidak pernah mengagumi pria sedewasa ini sebelumnya.

Mungkin usianya jauh di atas saya, tapi dia selalu tampak muda. Celana jeans dan t-shirt menjadi setelannya di setiap pertemuan kami. Belum lagi sebuah topi yang selalu menutupi bagian atas kepalanya. Saya bahkan sudah lupa kapan terkahir kali melihat potongan rambutnya.

Dia berbicara seperti benang yang sedang dirajut seorang wanita tua; tenang, rapi, dan teratur. Ini yang membuat saya tidak dapat behenti untuk memberikan atensi lebih. Sebenarnya tidak ada analogi yang cukup seimbang untuk menggambarkan cara bicaranya. Intonasi, pilihan kata, gaya bahasa, bahkan setiap detik yang dia gunakan untuk menyusun kalimat tidak pernah gagal membuat saya larut.

Tidak jarang saya mencoba menarik perhatiannya. Panjang lebar saya mengatakan hal-hal baik yang saya tahu. Saya berusaha sekuat tenaga untuk sejajar dengannya di setiap topik yang dia bicarakan. Tapi yang terjadi adalah dia tidak pernah memuji saya, atau bahkan menghiraukan kehadiran saya.

Pernah di suatu diskusi dia menganggap saya tidak menghargainya. "...ada yang lagi BB-an. Keliatan dari posisi tangan dan caranya memangku tas," katanya sambil memalingkan wajah ke arah saya. Padahal yang saya lakukan adalah memainkan ikat rambut dan menunduk menghindari pandangannya.

Saya masih mengaguminya.

Semakin saya melanjutkan untuk menulis, semakin saya merasa seperti berada di dunia fiktif. Dia mungkin tidak akan membaca tulisan ini atau menyadari bahwa saya ada, yang ingin saya lakukan adalah menunjukkan kekaguman saya tanpa terlihat tolol di hadapannya.

4 comments: