Wednesday, November 14, 2012

Review: Jakarta Hati


Setiap kali dosan Kajian Film saya memberi tugas untuk membuat review film, beliau tidak pernah meminta review dengan struktur awal ringkasan film. Kenapa? Karena menceritakan kembali itu persoalan gampang. Kali ini pun saya akan mereview film Jakarta Hati tanpa menulis sinopsis singkat, karena toh bahkan di Wikipedia sudah tertulis lengkap. Untuk apa menulis ulang?

Jakarta Hati merupakan sebuah film satir bergenre omnibus yang disutradarai oleh Salman Aristo, salah satu penggarap film yang dikenal memiliki integritas tinggi. Dengan tagline Ini Jantung Ibukota, di Mana Hatinya?, Jakarta Hati mengusung enam film pendek yang, seperti judulnya, mengisahkan tentang Jakarta.

Karena pengaruh media, terutama televisi, yang membangun perspektif bahwa Jakarta adalah pusat Indonesia, tidak perlu menjadi orang Jakarta, tinggal di Jakarta, atau sering kali berkunjung ke Jakarta untuk merasa tersentuh dengan film Jakarta Hati. Selain itu, Jakarta Hati mengangkat tema yang membumi dan, lucunya, pada beberapa bagian mampu membuat penonton tertawa ringan sambil berteriak dalam hati, "HAHA BENER BANGET!"

Cerita-cerita dalam film Jakarta Hati tidak bermaksud mengejutkan, bahkan trailernya pun secara gamblang menjelaskan inti cerita. Lagi pula, konyol rasanya kalau menonton sebuah film hanya untuk menebak-nebak dan menantikan ending cerita tanpa menikmati plot. Jakarta Hati menawarkan alur yang membawa kita terbang dalam cerita, dan secara perlahan mendudukkan kita pada akhir cerita dengan posisi nyaman.

Secara kreatif, Jakarta Hati menggambarkan sebagian kecil fakta-fakta mengenai kehidupan metropolitan, mulai dari maraknya film horor-seks, penggunaan sosial-media, hingga tindak korupsi. Orang Lain, cerita pertama film Jakarta Hati, masih menjadi favorit saya. Posisinya tepat sebagai pembuka. Dalam Orang Lain, gambar fotografis terekam dengan menarik. Skrip, terutama pada bagian dialog, disampaikan dengansama seperti pemain utamanya, Asmirandahcantik. Cerita-cerita lain pun disuguhkan dengan keunikan masing-masing. Dalam Gelap, misalnya, yang hanya mengambil satu angle, tetapi tetap memberikan pengalaman menonton secara utuh. Dan bagi saya, yang menyukai karya yang rapi, I like this movie.

Jakarta Hati adalah sebuah simbol, realita, kritik, dan yang jelas, tipikal film yang sayang untuk dilewatkan. Bagi teman-teman yang belum menonton Jakarta Hati, yuk segera! Boleh kok menonton film buatan luar negeri, tapi kalau ada film Indonesia yang bagus, didukung dong 

5 comments:

  1. ya, kayanya pilemnya bagus nih, ngeliat juga beberapa kali reviewnya

    ReplyDelete
  2. wah, saya belum nonton. dan kayaknya ngga bisa nonton, hehe

    ReplyDelete
  3. aku baru tahu dari kakak ceritanya, filmnya udah tayang atau belum kak ya ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. udah tayang kak, tapi cuma betah dua minggu di bioskop :))

      Delete
  4. bagsu cara kamu mereview... jadi banyak belajar juga nih aku cara mereview... thank's.... ^^

    ReplyDelete