Sewaktu saya kecil, ayah sering mendongeng untuk saya. Mulai dari cerita legendaris Kancil Mencuri Timun, sampai karangan cerita sesuka hati. Bukan sesuatu yang disayangkan, tapi ayah selalu tidur lebih dulu dari saya setelah selesai mendongeng. Yah, setidaknya saya tahu akhir cerita setiap dongeng.
Beranjak dewasa, saya mulai berani tidur sendiri. Resikonya: tidak ada lagi dongeng. Akhirnya saya mendongeng untuk diri saya sendiri. Saya memikirkan dongeng-dongeng indah yang mungkin juga pernah dipikirkan anak perempuan lain.
Setelah lulus dari sekolah menengah, saya merasa bahwa dongeng bisa saja menjadi nyata. Sedikit demi sedikit, saya merealisasikan potongan-potongan dongeng saya. Saya berusaha menjadikan dongeng saya hidup. Namun tanpa saya sadari, saya melupakan dongeng dari ayah; dongeng sederhana, tapi sekarang terdengar rumit.
Bukan Profesional
Ayah bukan seorang profesional dalam hal mendongeng. Beliau tidak menulis buku dongeng, beliau bukan pendongeng hebat, dan—sekali lagi—beliau selalu tidur lebih dulu dari saya setelah selesai mendongeng. Begitu pula saya yang juga bukan pendengar profesional, karena saya mengabaikan betapa dongeng seharusnya mengingatkan saya pada sosok ayah.
Saya pontang-panting menjadikan diri seorang profesional, tapi gagal sebagai pendengar bagi ayah. Saya meng-iya-kan perintah orang lain tentang jam kerja, tapi saya gagal mendengar ajakan ayah saya untuk pulang. Baru kemudian saya sadar bahwa kepedulian orang lain tidak akan melebihi ayah saya. Saya harus pulang.
Hanya Amatir
Guru Bahasa Indonesia saya pernah meluruskan pemahaman saya (dan mungkin kita) tentang kata "amatir". Kita menganggap "amatir" adalah orang yang melakukan sesuatu asal-asalan, tanpa mementingkan kualitas. Namun, sesungguhnya "amatir" berasal dari Bahasa Latin "amator" yang berarti "lover of". Artinya, "pecinta" atau orang yang melakukan sesuatu atas dasar cinta.
Kembali ke cerita tentang ayah saya. Beliau tidak meminta saya memiliki "jam kerja" untuk menghubungi beliau. Ketika orang lain membutuhkan saya sebagai seorang profesional, ayah hanya ingin saya menjadi seorang amatir; seorang yang melakukan sesuatu atas dasar cinta, bukan karena tuntutan lain. Bagi saya, rasa cinta saya terhadap ayah melampaui segala tuntutan. Sama seperti ayah ketika mendongeng.
Untuk Papa yang sedang berulang tahun, selamat. Semoga panjang umur dan sehat selalu. Maaf hampir tidak bisa menyempatkan waktu untuk pulang.
No comments:
Post a Comment