Wednesday, July 1, 2015

Rangkuman Perjalanan Panjang Sakit Gigi

Kembali lagi ke kisah lama bersama sakit gigi. Setelah cabut salah satu geraham kiri bawah di awal taun 2014, kirain penderitaan udah berakhir. Nggak taunya, giliran geraham kanan bawah yang sakit. Puncaknya, suatu malam di bulan April 2015 saking sakitnya sampe air mata udah nggak kebendung lagi.

Setelah cek ke Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) Dr. Soepomo, ternyata masalahnya adalah impaksi, yaitu gigi tumbuh dalam posisi miring; dalam kasus saya malah dalam posisi tidur. Kalo bercandaan dokter gigi sih bilangnya giginya males. Hmm. Mau nggak mau, harus dilakukan odontektomi alias operasi gigi.

Pengalaman cabut gigi sebelumnya bikin saya cukup trauma. Sakitnya luar biasa. Setelah cari info sana-sini, kayanya emang dokternya aja yang nggak canggih. Akhirnya, saya milih ditangani dokter spesialis dan merelakan asuransi GMC yang lumayan besar (karena potongan nggak berlaku untuk dokter spesialis).

Proses odontektomi sendiri berlangsung cepet. Kalo nggak salah hitung sih sekitar 15 menit. Yang lama justru pemulihannya. Selama hampir 2 minggu pipi kanan saya bengkak dan sekitar 2 bulan gusi saya berlubang. Untuk dampak yang kedua ini, bikin gusi sakit kalo sampe ada sisa makanan yang nyelip. Ya disabar-sabarin aja sambil sesekali minum ponstan.

Belum, kisah ini belum selese. Selama 20 taun nggak pernah ke dokter gigi, ternyata bikin masalah gigi yang cukup kompleks. Sekarang ada lagi gigi yang berlubang. Kali ini saya nggak mau cabut gigi, tapi milih perawatan saluran akar. Emang makan waktu dan biaya yang lebih mahal, tapi percaya deh, nggak ada apa-apanya dibanding harus ngerasain sakit gigi. Ini masih tahap perawatan. Doakan aja.

Seperti judulnya, ini adalah rangkuman. Cerita aslinya lebih panjang, sakit, dan menyedihkan. Saran aja sih, rajin-rajin aja ngerawat gigi. Ke dokter gigi tiap 6 bulan sekali. Dan yang paling sederhana, gosok gigi malam sebelum tidur.

No comments:

Post a Comment